Tuesday, April 26, 2011

There Is No Spot In You

There Is No Spot In You

Song Of Solomon 4:7
7You are all fair, my love, and there is no spot in you.
Jesus tells us His bride, “You are all fair, My love, and there is no spot in you.” But our reply to Him tends to be, “Me? All fair and no spot? You don’t know me, Lord!”
Do you really think that God doesn’t know you?
God sees reality like no one else sees it. He sees the perfection of His Son’s finished work in your life. By one offering of Himself at the cross, Jesus has perfected you forever! (Hebrews 10:14) You have been made the righteousness of God in Christ. (2 Corinthians 5:21) And you will never find any spot in this righteousness that Jesus died to give you.
So God wants you to see yourself righteous — all fair and spotless in Christ. Every day, be conscious of your righteousness in Christ. Say, “I am the righteousness of God in Christ. There is no spot in me whom He has perfected with His blood.” When you do that, you are honoring Jesus and His finished work.
If you are conscious of your sins, then you are not honoring the work of Christ. You may think that you are being humble or holy by being sin-conscious. But do you know that the Bible calls sin-consciousness an “evil conscience”?
Hebrews 10:21–22 tells us that since we have Jesus as our High Priest, “let us draw near with a true heart in full assurance of faith, having our hearts sprinkled from an evil conscience”. What does the writer of Hebrews mean by “an evil conscience”? If you read the beginning of the same chapter, you will find that he is talking about a “consciousness of sins”. (Hebrews 10:2) Paul calls it a “conscience seared with a hot iron”. (1 Timothy 4:2) The Greek word for “seared” here iskauteriazo, and it means to carry about with you a perpetual consciousness of sin.
So don’t carry with you an evil or seared conscience. Your lifetime of sins has already been punished fully in the body of Jesus at the cross. Be conscious, instead, of your perfection and righteousness in Christ. Because of what Jesus has done for you, you can boldly declare, “I am all fair. There is no spot in me!”
© Copyright Joseph Prince, 2006. All rights reserved. 
No part of this document or any related files may be modified, adapted, reproduced,
distributed and/or converted in any form and by any means (electronic, photocopying or otherwise)
without express written consent of the copyright holder.

All scripture quotations, unless otherwise indicated, are taken from the New King James Version®.
Copyright © 1982 by Thomas Nelson, Inc. Used by permission. All rights reserved.

Quotation

"Three things will last forever—faith, hope, and love—and the greatest of these is love."1 Cor 13:13 NLT

Beloved let us always remain in Faith, Hope & Love! Whatever challenge you are faced with today, my friend you are not alone! The Lord is with you & we the body of Christ from all around the world are praying with & for you! 

Yanti, from Selling Spices become Successful Entrepreneurs

Yanti, from Selling Spices become Successful Entrepreneurs

Yanti, from Selling Spices become Successful Entrepreneurs – 1001zones, Starting from the idea of ​​seasoning mix cassava chips, crackers and selling fried chicken and potato by using the cart, now its growing and increasingly large turnover.
As a housewife, not an obstacle for Yanti Meilianty Isa in order to achieve success, like the adam. He began his career of an employee of the company, now she just became the owner of a business turnover reached USD 2 billion per month.

Yanti Meilianty Isa 300x149 Yanti, from Selling Spices become Successful Entrepreneurs
Yanti Meilianty Isa
“I started a business (PT) MagFood Food Innovation 2001. Inspiration is shared (to others). I see a lot of gaps for Indonesian food. As Muslims, it must be kosher food, and our state of food insecurity. So I start first of myself,” said Yanti in Jakarta, Wednesday (03/23/2011).
The first product of the business, which is a mixture of spices for industrial cassava chips, crackers, made of hygienic materials, qualifies MOH, and kosher. “Year 2003, (I) entered into a franchise business. Formerly carts times ya, make fried chicken, and potatoes,” said Yanti, a continue campaigning for the use of food preservatives and dyes are safe for health.
Lapse 4 years later, Jackie bought shares of Red Crispy. However, because there are two ownership with one brand, then Magfood RedCrispy transformed into Magfood Amazy brand, which is a fast-food restaurant with a menu mainstay fried chicken and potato chips.
For the number of employees, for three years Amazy operate, there have been over 110 outlets, with 8-12 employees per outlet.” From the old and new brands we already have about 2000 workers, and entrepreneurs have formed a network of 400 people more,” she said.
“National Territory, the more advanced economies outside the island instead. Starting from Sumatra, Kalimantan and Ambon, Sulawesi. I enter in the cities that I had never met before,” said Yanti.
According to him, is an act of suicide if the focus on the island of Java in expanding business expansion, which is heavy enough to compete with multinational companies. “We go to the suburbs, like Bekasi, Bintaro, go into residential areas,” she explained.
Yanti who had formerly been a professional for 17 years with specialization in brand management say, mentally as the biggest obstacle for a person starting a business.” My capital is not money, but my experience during 17 years as a professional. Over the years I had the opportunity of many multinational companies to build new business, so this (capital is not just money) that I want transmitted to people,” she explained.
Mental in the attempt, he added, also means do not depend entirely with the government. That is, if it is difficult to meet licensing, taxes that make it difficult, or support to SMEs is still very difficult, do not complain, and try their own business.
“The problem in (business) micro, they do not create leadership. Like, traders in Tanah Abang, omsetnya probably more than me, but when the merchant was sick, their shop is not open,” she said.
With its status as a mother, also a businessman, Jackie says, there are many obstacles from the environment, ranging from the nuclear family, a large, up to the public though. “Well, the woman must have physical and mental endurance are very strong. Make hand finished eighth, Octopus, so they can keep family, businesses, and others,” she explains with enthusiasm.


Yuri Pratama Widiyana, mengubah ‘sampah’ menjadi emas.


Yuri Pratama Widiyana, mengubah ‘sampah’ menjadi emas.

Oleh JIBI on Thursday, 7 April 2011
Takdir mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan proses berliku pada Yuri Pratama Widiyana ketika memutuskan untuk melakukan budidaya bulu babi atau yang dikenal dengan sebutan landak laut.
Dalam waktu dua tahun usahanya membuahkan bisnis yang menggiurkan bahkan juga sejumlah penghargaan.
Bulu babi  biasanya hanya menjadi sampah dan dibuang para nelayan dengan cara dibenamkan dalam pasir agar mereka tidak terluka kena bulu babi dan juga racunnya. Ciri fisiknya berbentuk bulat dan berwarna hitam dengan  duri yang  menutupi cangkang ukuran setinggi 3- 10 cm.
Landak laut itu, kata Yuri, begitu mudah ditemui di perairan Indonesia yang membentang luas dari Sabang sampai Marauke termasuk di Pulau Tidung Kepulauan Seribu tempat yang dipilihnya untuk lokasi budidaya.
Meski dianggap sampah oleh nelayan, namun oleh Yuri Pratama, pemenang Wismilak Diplomat Success Challenge 2010, bulu babi  justru berpeluang menjadi ‘emas’ yang bisa mensejahterakan masyarakat dan negara.
Alumnus Universitas Indonesia jurusan Sosial Politik tahun 2008 ini mengaku perkenalannya dengan biota laut itu mungkin memang sudah suratan takdir. Bermula ketika melakukan riset ekowisata (ecotourisme) di Pulau Menjangan, Gilimanuk, Taman nasional Bali Barat, Yuri memperhatikan nelayan yang tengah membersihkan karang dan menyingkirkan bulu babi.
“Bulu babi dikumpulkan dan dikubur dalam pasir agar tidak  mencederai nelayan dan para penyelam yang banyak datang menikmati keindahan bawah laut kawasan itu. Kehadiran bulu babi itu juga mengganggu pertumbuhan karang-karang disana sehingga harus disingkirkan,” ungkapnya.
Kembali ke Jakarta, Yuri lalu mengumpulkan berbagai informasi mengenai bulu babi di internet. Informasi dan literatur yang terbatas tidak mematahkan semangat belajarnya hingga akhirnya memahami  berbagai manfaatnya.
“Secara kebetulan  sewaktu menonton TV ada tayangan mengenai bulu babi yang  kandungan protein dalam telurnya sangat tinggi dan dapat dimakan langsung seperti yang saya  saksikan anak-anak Pulau Karimunjawa yang memakannya dengan  lahap,”
Biota laut ini ternyata juga sangat dibutuhkan perusahan farmasi untuk bahan suplemen dan dari 100 gram kandungan protein mencapai 70 %. Selain juga memiliki kandungan lainnya seperti zat besi, asam amino yang berguna untuk kesehatan manusia.
Yuri jadi rajin searching d internet, mencari informasi ke LIPI, mendatangi para pakar kelautan yang memahami potensi bulu babi maupun belajar local wisdom dari nelayan tentang binatang laut itu.
Akhirnya dia berkesimpulan bahwa bulu babi bisa menjadi komoditi unggulan Indonesia. Sayangnya baik pemerintah dan masyarakat belum melirik bulu babi sebagai harta karun yang luar biasa.
Produk bernilai ekonomi tinggi ini  digolongkan sebagai zero waste product, artinya hampir semua bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi produk bermanfaat. Cangkangnya bisa dijadikan sebagai bahan baku kerajinan  tangan.
Bahkan cangkangnya  bisa pula diolah menjadi tepung sebagai bahan pakan ternak., sementara bagian lainnya yakni usus landak laut, dapat disulap menjadi pupuk organik.
Tamat kuliah Yuri sempat kerja kantoran, namun lagi-lagi bulu babi mengusik pikirannya sehingga akhirnya dia memilih Pulau Tidung, Kepulauan Seribu untuk budidaya bulu babi. Dia harus merogoh koceknya hingga Rp 20 juta untuk membiayai proyek idealismenya termasuk ongkos mondar-mandir ke pulau.
“Jual motor dan masa prihatin selama dua bulan karena sulit mengubah mindset nelayan untuk melakukan budidaya bulu babi harus saya hadapi. Nelayan lebih suka ikut pelayaran samudra dan nyabung nyawa di lautan lepas ketimbang meyakini untuk memulai budi daya bulu babi,” jelasnya,
Untunglah jika semula hanya tiga nelayan yang mau bermitra dengannya pada 2009, maka sekarang sedikitnya sudah ada 20 nelayan di pulau Tidung  yang bermitra dengannya. Pertengahan tahun ini tambal pembenihan akan di bukanya di Pulau Pramuka dan Pulau panggang meski masih dengan skala kecil.
Kerja keras dan belajar bersungguh-sungguh akhirnya mengantarkan Yuri menjadi mahir dalam melakukan budidaya, memahami proses pemasaran hingga saluran distribusi guna memasok telur bulu babi itu  ke restoran-restoran Jepang yang ada di Jakarta  untuk diolah menjadi uni sushi, salah satu menu klasik dari negri sakura itu.
Panen pertamanya sebanyak 50 kg telur bulu babi habis digunakan untuk contoh produk dan promosi guna merambah jaringan pasar, Dia tidak sungkan-sungkan mendatangani sejumlah restoran Jepang yang bertebaran di Jakarta.
Pengelola restoran yang terbiasa dengan produk impor masih ragu membeli telur bulu babi dari Yuri  meskipun harganya jauh lebih murah hanya Rp 250 ribu/kg sementara produk impor harganya di kawasan Asean US$ 30 dan di Jepang sendiri mencapai US$300/kg.
Restoran Jepang  terutama dihotel-hotel masih memilih barang impor dari pada hasil budi daya local. Tak habis akal, Yuri menjajal segmen pasar lainnya yaitu peluang pasar ke perusahaan farmasi di Semarang.
Kejeliannya melihat potensi itu cukup menguntungkan Yuri dan para nelayan binaannya. Terobosan lainnya adalah masuk ke pasar swalayan khusus untuk warga Jepang  yang dijual secara ritel.
Peluang pasar ekspor telur bulu babi memang menggiurkan dan menjadi andalan ekspor dinegara-negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, Chile dan Korea Selatan. Khusus untuk di Jepang saja, kebutuhan bulu babi menyedot sedikitnya 40 hingga 50 ton per tahun.
”Orang Jepang mengolah kekayaan laut menjadi keragaman makanan yang mampu mendunia. Restoran Jepang menyebar di berbagai negara dan sangat disukai masyarakat,”
Meski peluang ekspor begitu besar, Yuri mengatakan ingin menundukkan pasar dalam negri saja dulu dengan menjadi pemain lokal  terkemuka di bisnis telur bulu babi sekaligus menjadi proyek akhiratnya untuk mengangkat kaum nelayan Indonesia menjadi sejahtera.
Lajang kelahiran Jakarta 15 Juli 1984 ini mengatakan selama ini untuk produk ikan laut para nelayan tidak pernah menikmati harga jual yang layak. Sebaliknya para pengepul dan pedagang besarlah yang menikmati keuntungan besar.
“Untuk hasil budidaya bulu babi ini, para nelayan bisa menikmati harga pasar yang baik jadi mereka bisa merasakan manfaatnya mengolah biota yang selama ini hanya dianggap sampah menjadi komoditi unggulan, atau komoditi emas” ungkap Yuri.
Ke depan, tambahnya, dia akan berkonsentrasi pada nilai tambah telur bulu babi ini menjadi industri  yang mampu lebih banyak menyerap lapangan kerja seperti produk telur bulu babi dalam kaleng yang banyak diproduksi negara tetangga Filipina. (Hilda Sabri)


Hidangan Bebek Makin Unik

HIDANGAN bebek kini sedang tren di Bandung. Di kota kembang ini makin banyak rumah makan dan warung-warung khas yang menawarkan hidangan daging bebek. Tentu saja ini menjadi peluang bisnis yang menggiurkan di Parijs van Java ini. Karena itu, tidak heran banyak yang mencoba terjun dalam bisnis mengolah daging unggas akuatik ini.
Ini bebek bumbu pedas. Tapi pedasnya pas. Tanpa dicocol sambal, pedasnya enak. Orang yang tak suka pedas pun akan suka.
-- Ali Bagus
Salah satu anak muda Bandung yang berani terjun dalam bisnis bebek yang kompetitif ini adalah Ali Bagus Antra Suwantara dan Wawan Wardani. Keduanya bukan alumni sekolah perhotelan atau memasak, melainkan jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka pun berani terjun ke bisnis kuliner daging bebek dengan membuka rumah makan Bebek Segar Merangsang alias Bebek Garang. Ini merupakan salah satu sajian unik khas Bandung.
Menurut Ali Bagus, menu daging bebek olahan mereka diberi nama yang tidak standar. Bayangkan saja, di Bebek Garang terdapat menu bebek debus, bebek kagok negro, bebek greenpeace, dan bebek 70.
"Yang paling banyak dipesen konsumen biasanya bebek debus atau bebek 70," ujar Ali kepada Tribun akhir pekan lalu di Jalan Braga.
Bebek debus, menurut pemuda berusia 27 tahun ini, adalah menu khas dari Rangkasbitung atau dikenal juga dengan nama Lebak, satu kabupaten di Provinsi Banten. Untuk mengolah bebek debus, daging bebek akan dibakar dengan cara khusus.
"Ini bebek bumbu pedas. Tapi pedasnya pas. Tanpa dicocol sambal, pedasnya enak. Orang yang tak suka pedas pun akan suka," kata pemenang penghargaan Shell Live Wire Bussiness Start-Up Awards 2010 ini.
Kalau ingin mencicipi olahan bebek yang orisinal, seperti digoreng, maka sebaiknya memesan bebek 70. Nama bebek 70 bukanlah nama untuk sepeda motor merah yang ngetop tahun 1970-an hingga kerap diberi nama bekjul alias bebek 70. Bebek 70 adalah olahan daging bebek orisinal. "Daging bebek digoreng sehingga garing di luar dan lembut di dalam," kata Ali.
Selain bebek garang, masih banyak ragam pengolahan daging bebek di kota kembang. Pilihan tempat untuk menikmati bebek pun semakin beragam. Seperti di warung bebek A Yayo di MTC Soekarno Hatta, pengunjung bisa memesan bebek sesuai porsi. Bisa pesan satu ekor utuh, setengah, dan seperempat ekor.
Menunya pun cukup beragam. Selain bebek bakar dan goreng, andalan lainnya adalah sup bening bebek. Di dalam sup ini selain ada daging bebek, juga ada sayuran dan jamur shiyoko dari Jepang. Sup ini terasa begitu gurih dan segar, dan sangat cocok disajikan baik di siang hari maupun malam hari. Harganya pun terjangkau untuk kalangan menengah.
Di resto Bandoengsche Melk Centrale (BMC) di Jalan Aceh No 30, Bandung, ada juga menu bebek goreng organik. Menurut pihak pengelola bebek, organik tersebut didatangkan dari Karawang dengan tempat penangkaran khusus sehingga bebek-bebek ini tak berkeliaran di sembarang tempat. Bebek-bebek itu pun mendapat perawatan ekstra sehingga saat diolah aroma dan rasa dagingnya pun sangat berbeda dari daging bebek pada umumnya. (Tribun Jabar/tis)


Through community changing for the better environment

http://www.kophi.org/index.php

http://www.facebook.com/kophi.org

Monday, April 25, 2011

Don’t Sweat Over Loss Or Waste

Don’t Sweat Over Loss Or Waste

Luke 15:22–23
22“But the father said to his servants, ‘Bring out the best robe and put it on him, and put a ring on his hand and sandals on his feet. 23And bring the fatted calf here and kill it, and let us eat and be merry;
What would you say if your son, whom you had given a large inheritance to, came crawling home one day after wasting all his money on riotous living?
In the parable of the prodigal son (Luke 15:11–24), the father did not say one word about loss or waste, though his son had indeed wasted his inheritance on riotous living. The father only saw his son’s homecoming as an opportunity to show him how much he loved him and to restore to him what he had lost.
Like the father in the parable, it is your heavenly Father’s desire to embrace you and show you how much you are loved. And it is His good pleasure to restore to you what you have lost.
Perhaps you have lost something recently, or you are frustrated that something has gone to waste due to a bad decision you made. My friend, God does not see the finality of the loss or waste the way you do. When you come to Him with it, He sees it as an opportunity to restore to you what has been lost or wasted.
Even if, like the prodigal son, you feel far away from your heavenly Father, or you feel that you have disappointed Him, don’t despair. The truth is that the moment you come to Him, He immediately restores to you the robe of honor to clothe your nakedness, the ring of authority to declare your position of power and dominion, and the sandals on your feet (which servants do not wear) to reinstate you as a son in His house.
He reassures you that you had never lost the position of sonship. And He celebrates your return to Him with the killing of a fatted calf because you are His beloved child whom He cherishes.
Beloved, in your Father’s house, you not only come under His complete protection, but you also enjoy His inexhaustibly rich provisions and unconditional love!
© Copyright Joseph Prince, 2006. All rights reserved. 
No part of this document or any related files may be modified, adapted, reproduced,
distributed and/or converted in any form and by any means (electronic, photocopying or otherwise)
without express written consent of the copyright holder.

All scripture quotations, unless otherwise indicated, are taken from the New King James Version®.
Copyright © 1982 by Thomas Nelson, Inc. Used by permission. All rights reserved.